Materia Kingdom
Valhalla online, server Indonesia…
GM:“Dan juara Valhalla Online National Grandprix tahun ini adalah... RAEVIS!!” *suara riuh teriakan dan tepukan tangan penonton*
Raevis: “Log out.”
Dalam kamar yang gelap, seorang anak lelaki tengah duduk di depan PC-desktopnya yang menyala. Anak itu meletakkan game controller dan melepas headmount-displayer yang dikenakannya lalu menatap layar monitor sambil menghela nafas.
Raevis: “Membosankan…”
CHAPTER 1 – THE GATE
Raevis sama sekali tak merasa senang atau bangga ketika menjuarai Valhalla Online National Grandprix. Ia justru merasa kecewa karena kehilangan tujuan untuk memainkan game tersebut.
???: “Kau benar-benar mau berhenti main Valhalla?”
Tanya Denny, teman sekelasnya sepulang sekolah.
Raevis: “Yup. Aku sudah jadi player terkuat kan?”
Denny:“Tapi kan kau masih bisa menaikkan levelmu, lalu mencari legendary weapon, melawan super-boss… Masa kau nggak tertarik dengan semua itu?”
Raevis:“Nggak tuh. Buat apa? Tanpa mencapai level maximum atau memakai legendary weapon aku sudah bisa jadi player terkuat.”
Denny: “K-kalau super-boss? Kau nggak tertantang untuk menaklukkan makhluk terkuat di Valhalla?”
Raevis: “Melawan 1 makhluk beramai-ramai selama berjam-jam? Malas deh.”
“Lagipula sejak awal aku nggak begitu tertarik dengan gameplay Valhalla, terlalu banyak unsur RPG daripada actionnya.”
“Aku mau mencoba game lain yang lebih seru!”
Denny: “Tapi kalau kau pensiun, aku jadi kehilangan partner donk…”
Raevis: “Kalau gitu kau juga ikut pensiun saja.”
Denny: “Mana bisa! Nilai Coins* sedang tinggi-tingginya tahu!”
*Coins = mata uang di game Valhalla
Raevis: “(Dasar mata duitan.)”
Denny: “Eh iya, kalau kau pensiun karaktermu jual ke aku saja ya!”
Raevis: “Boleh saja...”
Denny: “Asyiik!”
Raevis: “Bohong dink! Mana ada orang pintar yang mau jual karakternya ke tengkulak sepertimu!” *menjulurkan lidah*
Denny: “Tapi jangan sebut tengkulak donk!”
Raevis hanya tertawa melihat wajah Denny yang merah padam karena kesal. Malam harinya, terduduk di depan PC-desktop di kamarnya...
Raevis:*menghela nafas* “Haah… Game baru yang bakal dirilis nggak ada yang menarik, semuanya terlihat membosankan…”
“Aku ingin memainkan online game dimana aku bisa melakukan berbagai macam petualangan yang membuat jantung berdebar kencang bersama rekan-rekan seperjuangan! Game dengan gameplay yang unik dan asyik, tak hanya bergantung pada level dan kekuatan karakter... Ng?”
Pikiran Raevis teralih pada sebuah pesan yang masuk lewat e-mailnya. Raevis segera memeriksa pesan tersebut.
Raevis: “Tanpa nama?”
Raevis segera membaca isi pesan tersebut; “Kau sudah bosan memainkan game-game payah itu kan? Kau punya potensi, bagaimana kalau memainkan game yang lebih nyata, jauh lebih seru dan jauh lebih menantang?”
Raevis: “Heh, menarik.”
Raevis berpikir sejenak lalu membalas pesan tersebut; “Tepat sekali. Bagaimana kau bisa tahu? Aku tak tahu siapa kau, tapi aku ingin tahu apa yang bisa kau tawarkan padaku?”
1 jam kemudian...
Meski lama menunggu tetapi pesan balasan tak kunjung datang. Merasa kesal, Raevis mencoba menelusuri alamat pesan tersebut berasal. Namun hasilnya nihil, alamat tersebut tak dapat ditelusuri.
Raevis: “Sial! Rupanya cuma mau ngerjain nih?!”
“Tunggu, yang beginian kan biasanya ulah si Denny! Pasti gara-gara aku bilang ingin pensiun tadi siang.”
Esoknya di sekolah...
Raevis: “Hei! Kau yang semalam mengirim e-mail misterius itu kan? Ayo ngaku!”
Denny: “Hah? E-mail misterius apaan?”
Raevis:“Eit, jangan berkelit! Cukup ngaku aja sebelum aku laporin ke GM Valhalla kalau kau pakai cheat buat double item drop, coins dan exp!”
Denny: “Sumpah! Aku nggak paham apa maksudmu! Tapi jangan main ancam pake lapor-laporan segala, pliizz!”
Raevis: *menatap Denny lekat-lekat* “Bukan kau ya? Hmmm...”
“Ya udah deh. Sori, bro!” *meninggalkan Denny*
Denny: “Heran, kenapa lagi tuh anak?”
Sesampainya di rumah Raevis sudah tak lagi memikirkan e-mail misterius tadi malam.
Raevis: “Aku pulang!”
Ibu: “Hei! Ada paket kiriman untukmu!”
Raevis: “Paket kiriman?”
Ibu: “Ya. Tapi tak ada nama dan alamat pengirimnya. Ibu taruh di kamarmu.”
Raevis: “Oke. Akan kuperiksa. Terima kasih, Bu!”
Di kamar, Raevis mengamati dan memeriksa paket tersebut dengan seksama.
Raevis: *mengocok wadah paket* “Hmmm, tak ada yang mencurigakan. Sepertinya aman.”
Raevis lalu membuka paket tersebut dengan hati-hati. Isinya selembar kartu dan pesan yang bertuliskan; “Ini adalah kunci untuk membuka gerbang menuju dunia lain dimana imajinasi yang tak pernah kau bayangkan menjadi kenyataan.”
Raevis mengamati kartu tersebut. Kartu itu berwarna hitam keemasan, sepertinya terbuat dari logam yang ringan, terdapat ukiran yang membentuk semacam simbol atau tulisan asing yang tak dapat ia baca.
Raevis membaca pesan tersebut sekali lagi, memeriksa seluruh sisi paket tersebut lalu kembali mengamati kartu yang dipegangnya lekat-lekat.
Raevis: *keheranan* “Kunci?”
Berpikir sejenak, tiba-tiba terlintas sesuatu dalam benaknya yang membuatnya merasa geli sekaligus kesal.
Raevis:“Hehehe. Denny, tadi kau berbohong ya... Sekarang kau pasti sedang tertawa sambil membayangkan wajahku yang kebingungan kan?”
“Oke, leluconmu kali ini memang berhasil. Tapi aku akan mempersiapkan lelucon yang lebih hebat untukmu! Bersiaplah!”
Malam harinya…
Raevis: “Aneh. Kok aku jadi nggak bisa tidur?”
Raevis tak dapat memejamkan matanya. Ada semacam perasaan aneh yang menahan kantuk dan membuatnya tetap terjaga. Ia melihat jam dinding yang kini menunjukkan pukul 12 tepat tengah malam. Tiba-tiba ada seberkas sinar aneh yang berpendar dari atas desktopnya.
Raevis: “Hah?” *terbangun dari ranjangnya*
Raevis mendekati desktopnya, sinar aneh tersebut berasal dari kartu misterius yang diterimanya tadi siang. Raevis mengambil kartu tersebut. Aneh, pikirnya. Sekarang ia bisa membaca simbol yang tertera pada kartu itu.
Raevis: “Gate open?”
Tiba-tiba seberkas sinar lain muncul diikuti sebuah siluet berbentuk persegi panjang menyerupai pintu di hadapannya. Raevis terkejut dan terjatuh, tetapi segera berdiri kembali. Ia mengamati dan menyentuh benda yang muncul di hadapannya. Benda itu bukan bayangan melainkan benar-benar pintu, sebuah pintu tanpa kenop.
Raevis: *bingung* “Ini mimpi ya?”
Raevis menyadari bahwa di pintu tersebut juga terukir tulisan asing yang tak pernah ia kenal namun dapat ia baca.
Raevis: “Gate in…?”
Tanpa disangkanya, tiba-tiba pintu tersebut terbuka diikuti tekanan yang luar biasa kuat menariknya masuk ke dalamnya. Dan tanpa ia sempat berteriak, pintu itu telah tertutup, meninggalkan kesunyian di dalam kamar yang gelap pada pukul 12 tepat tengah malam.
Raevis: “Uwaaaaa!!”
Raevis merasa seperti tersedot dalam pusaran air yang sangat kuat sebelum tiba-tiba pusaran air tersebut berhenti dan suasana kembali menjadi tenang. Ia membuka matanya dan menyadari dirinya tengah melayang di sebuah ruang hampa.
???: “Kalau kau bisa menjadi seorang pahlawan, sosok seperti apa yang kau inginkan?”
Sebuah suara misterius muncul dan menggema dalam ruangan tersebut.
Raevis: “A-apa? Pahlawan?”
“He-hei! Wuaaaa!!”
Raevis belum sempat menjawab pertanyaan atau berpikir, tekanan kuat itu kembali muncul dan menariknya lebih jauh ke dalam kegelapan.
Di sebuah jalanan berbukit nan terjal, tampak seorang pemuda yang tengah berdiri di hadapan beberapa orang berjubah dan berpakaian hitam.
Pemuda: “Maaf kawan-kawan, bila kalian tak berkeberatan, mohon jangan menghalangi jalanku.”
Namun orang-orang berpakaian hitam itu tetap tak mau beranjak dari tempatnya. Mereka bahkan tak balas menjawab, hanya terkekeh dan tersenyum aneh. Pemuda yang bernama Leon itu sadar bahwa orang-orang itu mempunyai niat buruk. Sepertinya mereka adalah kawanan bandit atau perampok yang biasa beroperasi di wilayah tersebut.
Leon: “Apa ada masalah di sini?”
Bandit A: “Heh, dia berlagak bodoh!” *tertawa pada rekannya*
Bandit B: “Tentu saja ada, kakak tampan.”
Leon:“Maaf, aku tak punya banyak waktu untuk meladeni kalian. Jika kalian memang tak ingin membukakan jalan ini untukku, aku akan lewat jalan lain.”
Leon membalikkan badannya, segera 2 dari kawanan bandit itu melompat dan menghalangi jalannya.
Bandit C: “Oh, tidak bisa!”
Leon: *tersenyum* “Apa yang kalian inginkan dariku? Uang? Item?”
Bandit A: “Jangan pura-pura tidak tahu deh!”
Bandit B:“Kami tak membutuhkan uang atau item dari inventorymu. Yang kami butuhkan hanyalah golden materia yang ada di saku kanan celanamu itu, kakak.”
Leon: “Wah. Kalau menyangkut barang berharga, mata perampok memang jeli ya.”
Bandit B:“Kakak hanya perlu menyerahkan barang itu dan kami akan segera menyingkir tanpa melukai kakak seujung jaripun. Bagaimana?”
Bandit A: “Grrrr… Sudahi saja percakapan bodoh ini, hajar dan rebut langsung barangnya!”
Bandit A mengeluarkan sebilah pedang lalu melompat menerjang Leon. Dengan santai Leon mengangkat tubuhnya, menjejakkan kakinya ke wajah bandit A, lalu melompat ke udara dan mengeluarkan sebuah kartu dari sakunya.
Leon: “Weapon Card: Vermillion.”
Dari kartu tersebut sebuah tombak berwarna ungu muncul secara ajaib.
Leon:*mendarat sambil menghunuskan tombaknya ke arah para bandit* “Maafkan aku. Aku sudah diperintah untuk tidak menerima negosiasi apapun.”
Bandit A: “Serang dia!!”
Maka terjadilah pertarungan sengit antara Leon melawan kawanan bandit tersebut. Para bandit tersebut menyerangnya secara bersamaan, namun Leon mampu menghindari serangan-serangan mereka. Salah seorang bandit mengeluarkan rantai laso dan berusaha menjeratnya, namun Leon menangkap rantai tersebut lalu menarik dan melemparkan si bandit ke jurang.
Bandit A: “Sial! Padahal kita berempat dan dia cuma sendirian...”
Leon: “Wah, salah perhitungan ya? Seharusnya kalian membawa lebih banyak orang.”
Bandit A: “Diam kau!”
Leon: “Maaf, tapi akan kuakhiri dengan…”
*Pyaaaash!*
Tiba-tiba muncul kilatan cahaya dari atas langit. Mengalihkan perhatian mereka semua. Dan dari kilatan cahaya itu, sebuah sosok muncul dan jatuh ke arah mereka.
Raevis: “Uwaaaaa!!”
Leon: “Hah!?”
Brukk! Sosok berupa tubuh seorang pemuda bernama Raevis tersebut jatuh dan menimpa Leon yang berada tepat di bawahnya.
Leon: “Apa-apan ini!?”
Bandit B: “Berhasil! Aku dapat itemnya!”
Leon: “Apa!? Hei, menyingkir dariku!” *berusaha menyingkirkan tubuh Raevis*
Bandit C: “Item card: Smoke bomb!”
Dalam sekejap, selubung asap menyelimuti mereka dan menutupi pandangan. Leon berlari menembus selubung asap tersebut, berniat mengejar para bandit. Namun terlambat, para bandit tersebut telah berhasil kabur tanpa meninggalkan jejak.
Leon: “Ugh! Sial!”
Raevis: “Uhuk! Uhuk!”
Melihat Raevis yang keluar dari kepulan asap, Leon segera menghampiri pemuda itu. Ia lantas mencengkeram baju Raevis lalu mengangkat tubuhnya.
Leon: “Kauu…! Siapa kau berani-beraninya menggangguku!? Apa kau salah satu rekan mereka, hah!?”
Raevis:“T-tunggu dulu!"
"Namaku Raevis dan aku benar-benar tidak paham dengan apa yang sebenarnya terjadi!” *berusaha melepaskan cengkeraman Leon*
Leon: “Kau berniat mengajakku bercanda ya?” *menatap Raevis dengan mata pembunuh*
Raevis: “Bukaaan!! Lagipula ini dimana sih!? Seharusnya aku sedang berada di kamar kan!?”
Mendengar ucapan Raevis, Leon mengernyitkan dahi dan menatap lekat-lekat pemuda itu.
Leon: “Kau... Newbie?”
*Bruk!* Leon menjatuhkan Raevis.
Raevis: *menggosok pantatnya yang kesakitan* “N-Newbie?”
Leon: “Ini adalah Underworld. Saat ini kau sedang memainkan dark-fantasy game, Underworld online.”
Raevis: “Ha?” *tak percaya dengan apa yang didengarnya*
To be continue…